Tuesday, July 31, 2007

BUAH MAHKOTA DEWA - TOKSISITAS, EFEK ANTIOKSIDAN DAN EFEK ANTIKANKER BERDASARKAN UJI PENAPISAN FARMAKOLOGI

Bahan alam (khususnya tumbuh-tumbuhan) merupakan keanekaragaman hayati yang masih sangat sedikit menjadi subjek penelitian ilmiah di Indonesia, padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar didunia dengan lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan berikut biota lautnya. Dari sekian besar jumlah tersebut baru sekitar 940 species yang diketahui berkhasiat terapautik (mengobati) melalui penelitian ilmiah dan hanya sekitar 180 species diantaranya yang telah dimanfaatkan dalam temuan obat tradisional oleh industri obat tradisional Indonesia (DepKes, 2000). Hal ini disebabkan karena pemanfaatan tumbuhan di Indonesia untuk mengobati suatu penyakit biasanya hanya berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara turun temurun tanpa disertai data penunjang yang memenuhi persyaratan (Sirait, 2001). Dengan melihat kenyataan tersebut maka usaha-usaha untuk menggali informasi kandungan senyawa kimia dan bioaktivitas tumbuhan obat melalui penelitian ilmiah menjadi sangat penting.

Bioaktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan senyawa kimia yang terdapat didalamnya. Perbedaan kandungan senyawa kimia yang ada menunjukan perbedaan aktifitas farmakologis dari tanaman yang bersangkutan (Cutler and Cutler. 2000; Katzung et.al, 1995; Siswandono, 1998). Selain dipengaruhi oleh jenis senyawa kimia, metoda yang digunakan untuk melakukan uji bioaktivitas juga memegang peranan penting dalam memberikan hasil yang ingin diketahui dari aktifitas tanaman tersebut (Cassady et. al. 1980; Colegate et, al. 1993).

Tanaman Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa) marga Thymelaeaceae, merupakan salah satu tanaman tradisional Indonesia yang masih belum memiliki acuan informasi yang lengkap, baik dari segi fitokimia maupun dari segi farmakologi guna dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif,

Pemanfaatan tanaman Mahkota Dewa ini antara lain adalah sebagai tanaman obat anti kanker / sitostatika yang amsih merupakan suatu pembuktian empiris berdasarkan pengalaman para pengguna semata (APTOI, 2001; Harmanto, 2001), sehingga kemudian harus dibuktikan secara ilmiah karena tanpa adanya acuan informasi ilmiah yang mendukung , khususnya tentang aktivitas anti kanker, maka penggunaan tanaman Mahkota Dewa akan tetap menjadi sangat terbatas dan pemanfaatannya sebagai suatu bentuk pengobatan alternatif sitostatika juga mengalami hambatan (Depkes, 2000; Sucahyo, 1999).

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kemudian dilakukan suatu rangkaian penelitian farmakologi terhadap ekstrak kulit biji dan daging buah tanaman Mahkota Dewa yang mencakup penelitian uji toksisitas (kadar racun dalam tanaman), uji antikanker (terhadap sel leukemia L1210 secara in vitro) dan uji aktifitas antioksidan pada tanaman.

Acuan pustaka yang ada telah menyebutkan bahwa tanaman marga Phaleria umumnya memiliki aktifitas antimikroba. Aktivitas ini berkaitan dengan toksisitas (kandungan racun) tanaman yang cukup tinggi sebagai salah satu bentuk dan mekanisme pertahanan diri. Dari sejumlah pengalaman eksperimental terbukti pula bahwa sebagian besar tanaman yang memiliki aktivitas antimikroba pada umumnya juga menunjukan potensi sebagai suatu antikanker karena toksisitas yang dimilikinya tersebut dapat pula bekerja terhadap fase tertentu dari siklus sel tumor. Penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini menyatakan bahwa toksisitas tanaman berkaitan erat dengan kandungan senyawa kimia yang terkandung didalamnya (Cutler and Cutler, 2000; EISAI 1995; Mills et. al. 2000).

Kanker sendiri adalah suatu penyakit sel dengan ciri-ciri kegagalan mekanisme pengatur multifikasi dan fungsi nomeostatis lain pada organisme multisekuler. Selain satu mekanisme yang dapat menanggulangi kemungkinan terjadinya kanker adalah melalui mekanisme antioksidan (Mueller et al, 2001; Muray, dkk, 1997; Prajatmo dkk, 1999; Setiawan, 2000).

Golongan senyawa kimia dalam tanaman yang berkaitan dengan aktifitas antikanker dan antioksidan antara lain adalah golongan alkaloid, terpenoid, polifenol, flavonoid dan juga senyawa resin (Mills et. al, 2000; Wiryowidagdo, 2000). Penelitian awal terhadap ekstrak daging buah dan kulit biji Phaleria Macrocarpa menunjukan adanya alkaloid, terpenoid, saponin dan senyawa polifenol (Lisdawati, 2002). Kenyataan tersebut memperkuat dugaan terhadap aktifitas antikanker dan antioksidan yang ada pada tanaman selain pembuktian empiris yang telah ada.

Pengujian terhadap kadar toksisitas ekstrak tanaman (daging buah dan kulit biji) dilakukan dengan melihat tingkat kematian (mortalitas) yang ditimbulkan oleh ekstrak terhadap larva udang jenis Artemia salina Leach setelah diinkubasi selama 24 jam. Hasil menunjukan bahwa ekstrak tanaman menunjukan toksisitas yang sangat tinggi, yaitu nilai konsentrasi yang menyebabkan kematian 50% larva udang (LC50) berkisar antara 0,1615 - 11,8351 ug/ml (semakin kecil nilai LC50 yang dimiliki ekstrak tanaman maka akan semakin toksik tanaman tersebut dan semakin berpotensi untuk memiliki aktifitas biologi / efek farmakologi).

Batas aktifitas biologi tanaman adalah dengan nilai LC50<1000>

Pengujian aktifitas antikanker ekstrak tanaman dilakukan dengan menguji daya hambat pertumbuhan sel Leukimia L1210 oleh ekstrak tanaman secara in vitro. Hasil pengujian menunjukan bahwa ekstrak tanaman memiliki nilai hambat pertumbuhan 50% dari sel Leukimia setelah masa inkubasi 48 jam (LC50) sangat rendah, yaitu <10>

Batas IC50 suatu ekstrak tanaman untuk dapat dinyatakan berpotensi sebagai suatu antikanker adalah 10ug/ml (Sumatra, 1998).

Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak tanaman dilakukan dengan menggunakan metode larutan DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazy) secara spektrofotometri Uv.Vis., dimana dibandingkan aktivitas antioksidan ekstrak tanaman dengan anti oksidan senyawa antiosidan sintetis BHA (butylated hydroxi anisol) dan BHT (butylated hydroxyl tolune) berdasarkan spectrum hasil serapan. Hasil pengujian menunjukan ekstrak semi polar dan polar daging buah dan kulit biji tanaman memiliki aktifitas antioksidan yang cukup potensial dengan nilai LC50 antara 94,89 - 136,79 ug/ml (Yen, 1995).

Hasil pengujian tersebut diatas secara umum telah dapat menunjukan adanya potensi antioksidan dan antikanker dari ekstrak daging buah dan kulit biji Mahkota Dewa secara ilmiah, yang menambah bioaktifitas yang dimiliki tanaman Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) berdasarkan penelitian terdahulu dan bukan hanya merupakan suatu data empiris semata sehingga pemanfaatan tanaman sebagai suatu obat alternative sitostatika dapat menjadi lebih optimal.

No comments: