Wednesday, August 15, 2007

Mengenang : Jumat, 09 Januari 2004. Desa Paoman Indramayu Dilewati Puting Beliung 'Merah"

Puting Beliung "Merah" Menyergap

INDRAMAYU, (PR).-
Angin puting beliung menyergap beberapa desa di daerah pesisir Kab. Indramayu pada Rabu malam (7/1). Puluhan rumah rusak, pepohonan besar bertumbangan, serta jaringan listrik rusak akibat angin puting beliung itu. Kerugian ditaksir mencapai kisaran puluhan juta rupiah.


SEBUAH rumah tertimpa pohon yang tumbang akibat dilanda angin puting beliung di Desa Paoman Kec. Indramayu Kab. Indramayu, Kamis (8/1). Bencana yang terjadi pada Rabu (7/1) malam itu melanda tiga desa.*UNDANG/"PR"

Angin berkekuatan besar yang menyerang Indramayu itu dinilai aneh dan misterius, sebab tak seperti angin puting beliung yang kerap muncul di beberapa daerah. Menurut penuturan warga yang jadi korban, angin tersebut membawa kabut berwarna merah. Bahkan, saat menyentuh tanah, kabut tipis berwarna merah itu berubah seperti percikan-percikan api.

Hal lain yang membuat warga dicekam ketakutan ialah suara gemuruh angin puting beliung tersebut. Putaran anginnya juga sangat kencang. Angin itu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat.

Tak ada rumah yang tidak rusak begitu dilalui angin puting beliung berkabut merah tersebut. Pohon-pohon besar seperti pohon mangga yang telah berumur puluhan tahun juga tak kuat bertahan hingga akhirnya roboh. Begitu juga pohon beringin di halaman kantor Balai Desa Pabean Udik, desa yang terparah terkena dampak bencana angin itu.

Angin puting beliung "merah", menurut penuturan korban, mulai menyerang sekira pukul 21.00 WIB. Angin itu muncul setelah hujan yang turun deras sejak pukul 19.00 WIB. Angin puting beliung "merah" itu menyapu beberapa permukiman di desa pesisir, di antaranya yang terparah adalah Ds. Pagirikan, Pabean Udik, dan Paoman Kec.Indramayu Kab. Indramayu yang merupakan desa nelayan.

Di tiga desa itu, puluhan rumah dan pohon tumbang. Belasan di antaranya rusak berat. Bahkan, menurut penjelasan Raksa Bumi Peban Udik, Cardiman (47), tercatat empat rumah rusak parah dan tiga lainnya rata dengan tanah.

Rumah yang roboh di antaranya milik Misnen (53), warga Blok Karya Bakti, Murad (45), Nono (39) serta Tarsa (47). Puting beliung "merah" itu juga merobohkan "hangar" atau gudang tempat pembuatan perahu tradisional milik Murad (50) di Blok Bedahan.

Tenda awning di depan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Indramayu serta sebuah papan reklame yang terbuat dari besi di pertigaan Paoman juga ikut roboh. Kerusakan lain berupa genting rumah-rumah yang beterbangan akibat tersapu angin.

Surtani bin Misnen (21), warga Blok Karya Bakti, Pabean Udik yang rumahnya rata dengan tanah mengaku sangat ketakutan saat angin mengurung rumahnya. Dituturkannya, malam itu setelah hujan deras reda, dia dan orang tuanya sedang di dalam rumah. Sebelum angin datang, sebenarnya dia bersama keluarga juga dengan warga lainnya dicekam ketakutan akibat petir yang menyambar-nyambar. Belum cukup dengan itu, ketakutan warga menjadi-jadi saat tiba-tiba dari arah barat ada suara gemuruh.

"Warga saat itu sebenarnya serbabingung. Malam itu benar-benar sangat mencekam. Hujan deras memang reda, tetapi gerimis masih turun. Hanya, setelah hujan deras, giliran petir yang menyambar-nyambar," tutur Surtani yang dibenarkan tetangganya yang bernasib sama, Kasma (68).

Saat itu, sekira pukul 22.00 WIB, dari arah belakang rumah (barat) terdengar suara gemuruh yang disertai angin kencang. Angin berputar menyergap rumah Surtani sehingga seluruh genting beterbangan terbawa pusaran angin. "Kami benar-benar ketakutan. Bingung, mau keluar takut petir. Namun, angin sudah menerbangkan seluruh genting. Rumah saya seketika bergerak-gerak, hingga dengan terpaksa kami keluar rumah dan berlindung ke tetangga," tutur dia.

Saat ke luar rumah, Surtani sempat menyaksikan angin yang telah mengobrak-abrik rumahnya. Angin itu berputar kencang dan berkabut warna merah kebiruan, saat menyentuh tanah seperti mengeluarkan percikan-percikan api.

Kasma (68), juga warga Blok Karya Bakti, mengaku angin puting beliung ini aneh. Selama hidupnya, belum pernah daerahnya dilanda angin seperti itu yang membawa kabut merah kebiruan. "Angin seperti itu hanya dijumpai di tengah laut saat terjadi badai. Perahu atau kapal sebesar apa pun pasti tenggelam bila terkena angin ini," tutur lelaki tua itu.

12 Tahun sekali

Kepala Syahbandar Drs. H.M. Aspuri Illyas menjelaskan puting beliung berkabut merah itu biasanya hanya dijumpai di tengah laut. Angin itu menjadi momok nelayan dan dunia pelayaran di Laut Jawa, Selat Malaka, Laut Kalimantan, dan Laut Timor. "Angin itu biasanya terjadi minimal 12 tahun sekali. Pernah menyerang perairan Belitung, Lampung, dan juga Timor. Kapal sebesar apa pun kalau disergap angin itu pasti akan tenggelam sampai ke dasar. Pusarannya sangat berbahaya," tuturnya.

Aspuri mengaku aneh dengan angin tersebut yang tiba-tiba bisa menyerang daratan. Menurutnya, sampainya angin itu kemungkinan karena terbawa angin laut yang juga sedang bertiup di atas normal. "Warga tak usah khawatir, biasanya angin itu hanya datang sekali. Kali ini mungkin giliran Indramayu," tutur Aspuri.

Dari pemantauan, kecepatan angin di Laut Jawa meningkat 2 kali lebih besar, dari normalnya 6 knot/jam, kini mencapai 15 knot/jam, bahkan lebih. Ombak juga meningkat dari biasanya 0,8 m, kini ada yang sampai 5 m. Aspuri meminta nelayan agar berhati-hati bila melaut.(A-93)***

No comments: